Laporan: Rayan
Huntara Terbengkalai Warga Blang Seunong Bertahan di Tenda Jelang Lebaran

Aceh Timur (ANN) – Memasuki empat bulan pascabanjir dan longsor yang melanda wilayah Kecamatan Pante Bidari, kondisi warga Dusun Peulalu, Gampong Blang Seunong, masih memprihatinkan. Hingga Selasa (17/3/2026), puluhan warga terdampak bencana masih bertahan di tenda darurat dan gubuk sederhana akibat pembangunan hunian sementara (huntara) yang tak kunjung selesai.
Sekitar 40 kepala keluarga hingga kini belum dapat menempati huntara yang sebelumnya dijanjikan. Di lokasi, sejumlah bangunan huntara terlihat berdiri dalam kondisi setengah jadi dan terbengkalai tanpa aktivitas pembangunan.
Kepala Dusun Peulalu, Amran, mengatakan proyek pembangunan huntara terhenti karena kontraktor tidak lagi berada di lokasi. Ia menyebut para pekerja meninggalkan pekerjaan setelah mengaku belum menerima upah.
“Huntara sampai hari ini belum siap karena kontraktornya melarikan diri. Informasi yang kami terima, para pekerja belum dibayar, sehingga mereka memilih meninggalkan pekerjaan,” ujar Amran.
Selain pembangunan yang terhenti, warga juga mengungkapkan para pekerja proyek meninggalkan sejumlah utang di kedai milik masyarakat sebelum meninggalkan lokasi.
Salah seorang warga, Intan Putriyani, mengaku para pekerja yang berasal dari luar daerah sempat berutang kebutuhan sehari-hari di warung miliknya sebelum akhirnya pulang tanpa kembali.
“Banyak utang yang belum dibayar, seperti rokok dan minuman. Mereka bilang belum punya uang karena belum dibayar,” katanya.
Intan menyebut, untuk bertahan hidup, dirinya bersama keluarga terpaksa mengumpulkan kayu sisa banjir guna membangun gubuk darurat sebagai tempat berlindung.
“Kami sudah dua bulan tinggal di gubuk ini. Kami buat sendiri karena huntara yang dijanjikan belum juga selesai,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Murtini. Ia mengaku khawatir terhadap kondisi kesehatan keluarga, terutama anak-anak, yang harus tinggal dalam keterbatasan di tenda pengungsian.
“Kami sudah lama tinggal di tenda. Kami berharap ada kepastian dari pemerintah, terutama untuk anak-anak,” katanya.
Warga juga mengaku selama masa tanggap darurat belum pernah menerima kunjungan langsung dari pemerintah daerah. Meski sejumlah pihak telah datang untuk melakukan pendataan dan peninjauan, hingga kini belum ada kejelasan terkait kelanjutan pembangunan huntara.
Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, kondisi tersebut semakin dirasakan berat oleh warga. Mereka berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk melanjutkan pembangunan huntara agar dapat segera ditempati.
Berdasarkan data di lapangan, proyek huntara yang sempat berjalan kini terhenti total. Kontraktor maupun pekerja tidak lagi terlihat di lokasi, sementara pembangunan belum mencapai tahap penyelesaian.
Warga berharap pemerintah dapat segera menyelesaikan persoalan tersebut agar mereka tidak terus-menerus hidup dalam kondisi darurat tanpa kepastian tempat tinggal yang layak. (Ray)











