Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberi keterangan pers usai melakukan pertemuan tertutup dengan Forkopimda Kota Depok, Selasa [Foto Tribunnews.com]
Catatan: Dr. Suriyanto Pd, SH.,MH.,M.Kn
Media sering memberikan julukan kepada pemimpin daerah, seperti “Gubernur Konten” atau “Mulyono Jilid II” untuk Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, yang dianggap nyinyir atau tidak tepat oleh sebagian pihak.
Julukan ini muncul karena gaya kepemimpinannya yang aktif di media sosial dan dekat dengan budaya Sunda, tetapi juga menuai kritik keras, seperti tuduhan “Raja Sunda” atau kebijakan yang kontroversial.
Dedi menanggapi santai, menyatakan lebih baik disebut “Gubernur Konten” daripada “Gubernur Tidur,” menekankan bahwa media sosial membantunya menunjukkan kinerja kepada publik.
Namun, julukan semacam ini sering dianggap tidak adil karena cenderung meremehkan atau menyudutkan tanpa melihat konteks penuh kepemimpinan.
Sebaliknya, pendukungnya menilai julukan seperti “Bapak Aing” mencerminkan kedekatan dengan rakyat. Media seharusnya lebih objektif dan berhati-hati agar tidak memicu persepsi negatif yang tidak proporsional.
Terkadang ada suatu keanehan di media kita Indonesia, apakah itu media mainstream maupun media biasa, dua kasta inipun tak tau siapa yang mencipta tapi sebutan tersebut bergulir.
Tetapi itulah fenomena yang terjadi saat ini, jika kita tilik dalam kinerja sama saja untuk mencari fakta dan memberi informasi terhadap khalayak dengan data dan fakta yang kongkrit, untuk khalayak.
Baru-baru ini ada satu media mainstream yang membahas tentang panggilan raja dan Mahapatih serta Patih untuk di daerah Jawa Barat, seperti hal yang tak berkualitas untuk dibahas, karena apalah arti sebuah sebutan atau julukan, sepanjang hal tersebut tidak merubah Hukum tata negara kita apa masalah.
Kita sama-sama tau KDM sebagai Gubernur Jawa Barat seorang sosok pemimpin yang sangat di harapkan oleh rakyat Jawa Barat dengan kerja nyatanya bukan omom-omon.
Dedi sebagai pemimpin yang tulus bekerja untuk rakyat, Rekam jejaknya menunjukkan kerja nyata, tetapi persepsi pencitraan muncul karena pendekatannya yang sangat visual di media sosial.
Banyak warga mengapresiasi pendekatannya yang humanis, seperti promosi budaya Sunda, penanganan korupsi, dan perhatian pada isu lokal, misalnya polemik di Puncak, Bogo. Dedi sosok pemimpin yang “berkah” dan berani menangani premanisme serta korupsi di desa, dengan falsafah Sunda seperti “Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh” yang jadi landasan
Sosok Dedi Mulyadi sangat di dukung oleh rakyat Jawa Barat bahkan di elu elukan oleh sebagian besar Bangsa Indonesia karena kerja nyatanya, dekat dengan rakyat, dan dalam bekerja selalu di sorot camera sebagai bukti kerja nyata bukan pencitraan.
Artinya apapun sebutan dan julukan kepada KDM sepanjang tidak merubah aturan ketatanegaraan tidak jadi masalah, yang penting seorang Pemimpin itu benar-benar bekerja untuk rakyat dan hal tersebut dibuktikan oleh KDM sejak jadi bupati Purwakarta, DPRD, DPR RI dan saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawabarat yang sangat didukung oleh rakyatnya karena kerja nyatanya.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang adil dan berkarakter kuat. Tugas kepemimpinan memang tidak ringan namun memang harus diupayakan untuk terus melakukan transformasi perubahan dari waktu ke waktu.
Pemimpin yang ideal adalah solusi bagi bangsa dan negara Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja ini. Pemimpin terbaik sepanjang masa telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah sebagai umat terbaik.
Sebaik-baik pemimpin adalah yang mampu menyingkirkan semua kebijakan-kebijakan yang tidak berkontribusi langsung pada lapisan masyarakat dan meneruskan bahkan menyempurnakan kebijakan strategis yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat.
Jika pemerintahan adil, kepemimpinan setiap kepala daerah terkoordinir dengan baik, disertai dengan keselarasan penggunaan alam Indonesia yang makmur. Maka, akan terwujud masyarakat indonesia yang sejahtera.
*) Ketua Umum DPP Persatuan Wartawan Republik Indonesia











