Sudut pandang…
Cerita Rakyat Zaman Now:
Pecundang yang Gemar Menilai Pemimpin

Di setiap zaman, selalu ada tokoh yang merasa paling tahu arah angin, paling pandai membaca keadaan, dan paling lantang berbicara tentang kepemimpinan. Namun sayangnya, tidak semua yang bersuara memiliki keberanian untuk bertindak. Sebagian hanya pandai berkomentar dari kejauhan, sementara langkah nyatanya nyaris tak terlihat.
Ketika seorang pemimpin bekerja dengan sungguh-sungguh, mendengar keluhan rakyat, dan berupaya mencari solusi, mereka hadir sebagai penyanjung. Pujian diucapkan tanpa jeda, seolah keberhasilan itu lahir karena kedekatan mereka dengan kekuasaan. Mereka berdiri di barisan terdepan untuk ikut menikmati sorotan.
Namun saat pemimpin mulai lalai, lamban merespons persoalan, atau gagal memenuhi harapan masyarakat, sikap mereka berubah. Bukan keberanian yang muncul, melainkan kepura-puraan. Mereka memilih diam ketika kritik dibutuhkan, menghindar ketika kejujuran diperlukan, dan baru berani bersuara setelah berada di belakang kerumunan.
Yang lebih menarik, mereka kemudian berkeliling membawa cerita tentang kelemahan pemimpin. Berbicara seakan-akan paling peduli terhadap nasib rakyat, padahal saat kesempatan terbuka untuk menyampaikan kritik secara langsung dan bertanggung jawab, mereka memilih bungkam. Kritik yang seharusnya menjadi jalan perbaikan berubah menjadi sekadar bahan percakapan.
Masyarakat sesungguhnya tidak sulit menilai. Rakyat dapat melihat siapa yang konsisten memperjuangkan kepentingan umum dan siapa yang hanya mencari panggung. Mereka tahu siapa yang berani menyampaikan kebenaran di hadapan kekuasaan, dan siapa yang hanya berani berbicara ketika keadaan sudah aman bagi dirinya.
Karena pada akhirnya, kepedulian bukan diukur dari kerasnya suara, melainkan dari keberanian mengambil sikap. Integritas bukan terlihat saat memuji, tetapi saat mampu berkata jujur meski tidak menguntungkan diri sendiri.
Begitulah cerita rakyat zaman now. Tentang mereka yang gemar menilai pemimpin, namun lupa menilai dirinya sendiri. Tentang mereka yang lantang berbicara, tetapi enggan bertanggung jawab. Dan tentang rakyat yang semakin cerdas membedakan mana suara yang lahir dari ketulusan, dan mana yang hanya berasal dari kepentingan sesaat.
Sebab pemimpin yang baik akan dikenang karena kerjanya, sedangkan pecundang hanya akan diingat karena banyak bicara tanpa pernah memberi arti.(Red)











