Foto : Sekretaris Jenderal DPP FOMAPAK, Munazir, SH.I., MH.
Diam Adalah Kejahatan: Greta Thunberg, Gaza, dan Kecaman FOMAPAK terhadap Pemimpin Dunia Islam

Langsa, Aceh. ANN
“Saya bisa bicara sangat lama tentang layanan buruk dan penyiksaan yang kami alami di penjara. Percayalah. Tapi itu bukan ceritanya.”
— Greta Thunberg, setelah tiba di Yunani.
Dia berbicara dengan tenang. Tidak marah, tidak menangis. Suaranya datar tapi berat. Wajahnya jelas menunjukkan bekas pukulan. Namun dia tahu, jika dirinya menjadi pusat perhatian, maka makna sebenarnya dari Global Sumud Flotilla (GSF) akan hilang.

Dia bisa saja bercerita panjang lebar tentang apa yang mereka lakukan padanya—tentang bagaimana mereka menghina, menarik, dan membalut tubuhnya dengan bendera Israel; tentang rasa takut yang dia alami.
Tapi dia tidak melakukannya.
Dia tidak berbicara tentang dirinya.
Dia berbicara tentang Gaza. Tentang penindasan. Tentang bagaimana dunia pura-pura tidak melihat ketika satu bangsa sedang dibiarkan mati kelaparan secara perlahan.
Dan inilah pernyataan lengkapnya. Jika ingin versi verbatim, bisa lihat unggahan versi Bahasa Inggris.
Bacalah perlahan. Pahami. Rasakan apa yang dia coba sampaikan.
> “Izinkan saya menjelaskan. Saat ini sedang terjadi pembunuhan massal di depan mata kita sendiri—pembunuhan massal yang disiarkan langsung di ponsel kita. Tidak ada seorang pun yang berhak berkata bahwa mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tidak ada seorang pun di masa depan yang boleh berkata mereka tidak tahu.
Berdasarkan hukum internasional, setiap negara memiliki tanggung jawab untuk bertindak, mencegah, dan menghentikan genosida. Itu berarti menghentikan kerja sama, memberikan tekanan nyata, dan menghentikan pengiriman senjata. Tapi kita tidak melihat itu terjadi.
Kita bahkan tidak melihat tindakan paling dasar dari pemerintah kita. Sistem internasional kita sedang mengkhianati rakyat Palestina. Mereka gagal mencegah kejahatan perang terburuk dari terus berlanjut.
Saya tidak akan pernah mengerti bagaimana manusia bisa begitu kejam — sanggup membuat jutaan orang kelaparan di bawah blokade ilegal, kelanjutan dari puluhan tahun penindasan, apartheid, pendudukan, dan penyiksaan. Hidup Palestina.
Apa yang kami coba lakukan melalui Global Sumud Flotilla adalah bangkit dan bertindak ketika pemerintah gagal menjalankan tanggung jawab mereka. Pemerintah kita berbicara tentang hak asasi manusia, tentang pentingnya bantuan kemanusiaan untuk Gaza — tapi mereka gagal menjalankan bagian mereka, gagal melakukan bahkan hal paling minimal untuk menjamin keselamatan misi ini.
Misi ini seharusnya tidak perlu ada. Dan itu adalah aib. Diamnya dunia adalah aib.

Global Sumud Flotilla adalah upaya terbesar yang pernah dilakukan untuk memecahkan blokade laut Israel yang ilegal dan tidak manusiawi. Ini adalah kisah solidaritas internasional, kisah tentang manusia yang bangkit ketika pemerintah gagal bertindak. Kisah mereka yang berkata, “Para pemimpin yang mengaku mewakili kami, yang terus menanamkan genosida, kehancuran, dan kematian — mereka tidak mewakili kami.”
Ini adalah jalan terakhir. Fakta bahwa misi ini harus ada saja sudah memalukan.
Saya bisa bicara lama tentang penyiksaan dan perlakuan buruk yang kami alami selama ditahan. Percayalah. Tapi itu bukan ceritanya.
Yang terjadi di sini adalah: Israel terus memperhebat pembunuhan massal dan kehancuran dengan niat genosid, mencoba menghapus seluruh populasi, seluruh bangsa — di depan mata dunia. Sekali lagi mereka melanggar hukum internasional dengan menghalangi bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza sementara rakyat di sana terus kelaparan.
Dan kami ingin menegaskan — kami tidak hanya butuh bantuan kemanusiaan untuk masuk ke Gaza. Kami butuh akhir dari blokade. Kami butuh akhir dari pendudukan dan penindasan.
Tindakan ini adalah bentuk perlawanan terhadap budaya kekerasan “bisnis seperti biasa” yang membiarkan kejahatan perang terus terjadi. Inilah kisah sebenarnya.
Kita tidak boleh memalingkan pandangan dari Gaza, atau dari tempat-tempat lain di dunia yang menderita di bawah sistem kekerasan yang sama — seperti Kongo, Sudan, Afghanistan, Gaza, dan banyak lagi. Apa yang kita lakukan sejauh ini hanyalah yang paling minimum.
Pembunuhan massal ini, dan yang lainnya, sedang didukung oleh pemerintah kita sendiri, oleh institusi, media, dan perusahaan kita. Tanggung jawab untuk menghentikan kerja sama itu ada pada kita. Tapi yang kita lakukan masih terlalu sedikit.
Apa yang kita lakukan bukan untuk menjadi penyelamat rakyat Palestina. Apa yang kita lakukan adalah mendengarkan dan menindaklanjuti seruan mereka — agar manusia di seluruh dunia bertindak dan menghentikan kerja sama kita sendiri dengan kejahatan ini.
Gunakan keistimewaan, gunakan platform yang kita miliki untuk berdiri menentang sesuatu yang sama sekali tidak dapat dibenarkan.
Terima kasih.”
Jelas, dia tidak meminta simpati.
Dia hanya meminta dunia berhenti berpura-pura tidak tahu.
Karena diam hari ini bukan lagi tanda tidak tahu — diam sekarang adalah pilihan.
Seruan dan Kecaman FOMAPAK
Menanggapi pernyataan Greta Thunberg tersebut, Front Mahasiswa dan Pemuda Anti Kekerasan (FOMAPAK) menyampaikan kecaman keras terhadap kebisuan para pemimpin dunia Islam yang masih memilih diam di tengah genosida yang terus berlangsung di Gaza.

“Kami menilai diamnya para pemimpin negara-negara Islam adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan, keadilan, dan amanah umat. Ketika saudara-saudara kita di Gaza disembelih hidup-hidup, ketika anak-anak kelaparan dan rumah sakit dibom, masih saja ada yang sibuk berunding tanpa tindakan nyata,” ujar Sekretaris Jenderal DPP FOMAPAK, Munazir, SH.I., MH.
FOMAPAK juga mengecam keras para tokoh dunia yang selama ini mengaku cinta damai namun tetap memilih diam terhadap kejahatan kemanusiaan Israel.
Kedamaian tanpa keadilan, menurut FOMAPAK, hanyalah bentuk kepura-puraan moral yang menutupi keberpihakan terhadap penindas.
> “Pemimpin yang diam ketika kezaliman terjadi bukanlah simbol perdamaian — dia adalah bagian dari kejahatan itu sendiri,” lanjut Munazir.
FOMAPAK menyerukan agar seluruh pemimpin dunia Islam segera bersatu mengambil langkah nyata:
Menekan Israel melalui embargo diplomatik dan ekonomi;
Menarik kerja sama dengan negara-negara pendukung genosida;
Mendorong penghentian pengiriman senjata dan bantuan militer kepada Israel;
Mendukung penuh misi-misi kemanusiaan internasional seperti Global Sumud Flotilla.
> “Hari ini bukan lagi waktu untuk bicara — ini waktu untuk bertindak. Dunia tidak butuh lebih banyak kata-kata, dunia butuh keberanian,” tegas FOMAPAK dalam pernyataannya.
Diam adalah bentuk keberpihakan.
Dan yang memilih diam hari ini — sedang berdiri di sisi penindas.
#SaveGaza #FreePalestine #BreakTheSiege #GlobalSumudFlotilla











