Cecep Muhidir
Catatan: Cecep Muhidir, MBA *)
Pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir, didukung oleh kebijakan pemerintah, transformasi digital, dan akses pembiayaan
Pada tahun 2024, Kementerian Koperasi dan UKM melaporkan jumlah UMKM lebih dari 65 juta unit usaha, menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun.
Industri Mikro Kecil (IMK) pada 2023 mencatat pertumbuhan positif setiap triwulan dengan rata-rata kenaikan sebesar 2,55%.
UMKM menyumbang sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, setara dengan Rp 9.580 triliun dan mampu menyerap 97% tenaga kerja nasional, atau sekitar 117 juta pekerja, menjadikannya tulang punggung perekonomian Indonesia.
Kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional mencapai 15,7%, dengan target pertumbuhan ekspor sebesar 9% pada 2025, di mana transaksi ekspor UMKM pada Januari-April 2025 nyaris mencapai Rp 1 triliun. Angka yang cukup fantastis.
UMKM di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat, didorong oleh jumlah unit usaha yang meningkat, kontribusi besar terhadap PDB dan tenaga kerja, serta dukungan digitalisasi dan kebijakan pemerintah. Namun, tantangan seperti akses pembiayaan, transformasi digital yang belum merata, dan ketidakpastian global perlu diatasi untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan
Teknologi digital telah membuka pintu akses UMKM ke pangsa pasar global melalui platform e-commerce. Inilah peluang bagi UMKM untuk memperluas jangkauan produk mereka hingga ke luar negeri, meningkatkan omset, dan meraih pertumbuhan yang lebih luas
Agar UMKM terus bertumbuh dan semakin kuat, perlu mendapat sentuhan dan pendampingan agar bisa berkembang dan bersaing di pasar.
Pendampingan UMKM di Indonesia sering kali mencakup beberapa aspek kunci:
Akses Pembiayaan: Banyak UMKM kesulitan mendapatkan modal. Program seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat) atau pendampingan dari koperasi (contohnya KSPPS BMT NU) membantu UMKM mengakses pembiayaan dengan bunga rendah atau syariah.
Pelatihan dan Peningkatan Kapasitas: Pendampingan sering kali berfokus pada pelatihan manajemen, pemasaran digital, dan literasi keuangan. Misalnya, program dari Dinas Koperasi dan UMKM di berbagai daerah menawarkan pelatihan untuk meningkatkan kualitas produk dan strategi pemasaran.
Digitalisasi: Banyak UMKM didorong untuk go digital, seperti memanfaatkan platform e-commerce atau media sosial. Contohnya, program pendampingan di Yogyakarta mendorong UMKM masuk ke marketplace untuk memperluas jangkauan pasar.
Akses Pasar: Pendampingan juga membantu UMKM masuk ke pasar yang lebih luas, baik lokal maupun ekspor, melalui pameran dagang atau kemitraan dengan perusahaan besar.
Inovasi Produk: UMKM didorong untuk berinovasi, misalnya dengan sertifikasi halal atau pengemasan yang lebih menarik, agar produk lebih kompetitif.
Namun, tantangan masih ada, seperti kurangnya koordinasi antarlembaga pendamping, keterbatasan teknologi, dan rendahnya literasi digital di beberapa daerah. Solusi yang sering diusulkan adalah memperkuat sinergi antara pemerintah, swasta, dan komunitas lokal, serta menyediakan pendampingan yang berkelanjutan, bukan hanya sekali waktu.
Pemberdayaan UMKM menjadi salah satu prioritas nasional mengingat besarnya potensi dan kehebatannya dalam menghadapi krisis ekonomi, membantu penyerapan tenaga kerja, dan sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah berfokus pada program-program yang mendukung UMKM, baik yang telah dilaksanakan sebelum masa pandemi maupun program baru yang bersifat sustainable. Kebangkitan sektor UMKM diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional.
Untuk menggenjot kinerja UMKM, sangat dibutuhkan pendampingan UMKM agar naik kelas. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk dan SDM UMKM, sehingga mereka bisa bersaing di pasar yang kompetitif. Pendampingan yang efektif dan pendanaan yang tepat menjadi kunci untuk UMKM naik kelas.
Ada beberpa hal yang bisa dilakukan untuk mendampingi UMKM menuju UMKM Naik Kelas, diantaranya adalah:
Melakukan pelatihan dan pendampingan yang terstruktur dan berkelanjutan
Membantu UMKM membuat perencanaan bisnis yang jelas
Membantu UMKM menjadi lebih fleksibel dan inovatif
Membantu UMKM mengikuti selera pasar
Membantu UMKM mengecek kualitas produk dan layanan
UMKM yang naik kelas adalah pelaku usaha yang berhasil mengembangkan aspek-aspek kegiatan usaha yang dijalani. Aspek-aspek tersebut, di antaranya produksi, pemasaran, pembiayaan, kelembagaan, dan SDM.
*) Penggiat UMKM Jawa Barat











